The Unfinite Probability

Bodo amat dengan semua itu. Bodo amat dengan semua penilaian orang lain.8 min


Beberapa minggu lalu, di bulan Januari lalu tepatnya, saya berbincang-bincang dengan seorang kakak tingkat di suatu kafe dekat kampus. Obrolan bersama dia memang selalu menarik, meski bukan sekali dua kali saya bertukar cerita dengannya, sudah berkali-kali, obrolan kami tetap saja terjaga sedap dan tidak hambar. Ada saja hal baru yang perlu kami diskusikan. Tentang hidup, masa depan, kekhawatiran menghadapinya, atau kepercayaan diri untuk menjunjungnya, tentang persepsi diri sendiri terhadap diri sendiri sekaligus perbandingan antara persepsi diri dan persepsi orang lain terhadap diri kita, dan lain sebagainya.

Dia yang lebih senior daripada saya tentu lebih mempunyai stok pengalaman. Karenanya, saya terkadang mengkonfirmasi pengalaman saya sehari-hari untuk kemudian dikomentari olehnya, barangkali dia mempunyai pengalaman semisal dan memberikan masukan tentangnya. Alhamdulillah, pengalaman kami banyak miripnya, apa yang saya alami ternyata sudah dialaminya, dan masukan darinya sedikit banyak mengurangi kekhawatiran saya untuk menghadapi pengalaman tersebut.

Ada satu hal baru dari obrolan kita kali ini, yaitu tentang tekad atau keyakinan kita dahulu, atau mungkin juga ketekunan kita dahulu, sesuatu yang kita geluti dengan penuh iman bahwa suatu hari sesuatu tersebut dapat menjadi dunia kita. Hal-hal demikian memang hampir setiap orang mengalaminya, dan berdasar obrolan kita, kami mengambil kesimpulan bahwa apa yang kita idam-idamkan dahulu dengan didorong oleh kerja keras tiada henti dahulu, suatu saat dengan terpaksa tidak menjadi jalan hidup kita. Sesuatu dahulu yang kita perjuangkan dengan sekuat tenanga untuk masa depan, suatu saat perlu kita hanyutkan di aliran bernama realitas. Hal begini, secara mengagetkan, ternyata bukanlah tanda kegagalan yang sesungguhnya, itu justru merupakan indikasi kedewasaan.

Nah, tentang sesuatu bernama pengalaman-pengalaman ini, maka saya hendak menyajikan sekaligus dalam pembahasan ini inti sari dari buku yang pernah saya baca. Buku tersebut berjudul, “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” karya Mark Manson. Dan buku ini saya bawa ketika saya berbincang dengan kakak tingkat tadi, bahkan foto di atas adalah foto dimana saya sedang bersamanya.

***

Pada awal-awal saya membaca buku terbitan Grasindo ini, saya sudah terkaget-kaget. Sebab penulisnya mengusung suatu keyakinan dengan penuh percaya diri dimana keyakinan tersebut tidak sama sekali terpikirkan oleh saya. Bahkan boleh dibilang, saya justru meyakini sesuatu yang bertolak belakang dengannya.

Ambil contohnya, dimana penulis buku ini meyakini bahwa perbaikan diri dan kesuksesan kadang terjadi bersama namun hal demikian tidak lantas berarti keduanya adalah hal yang sama (halaman 4). Tentu saja saya kaget dengan hal ini, saya yang meyakini bahwa kesuksesan itu justru terjadi ketika kita berusaha untuk memperbaiki diri sebaik-baiknya, dan sesuatu dari atas, entah anda sebut sebagai apa—Maha Kuasa atau Tuhan—akan dengan belas kasih membuat lingkaran kebaikan juga di sekitar kita, termasuk kesuksesan itu sendiri.

Keyakinan penulis ini disokong oleh cerita tentang sosok yang bernama Bukowski, dimana ia adalah orang yang bercita-cita menjadi penulis tapi modal yang ia punya hanyalah kepribadian yang seperti sampah; tulisannya bahkan sangat hancur, kasar, menjijikkan. Tidak bermoral. Nah, tapi di sinilah poinnya. Justru kepribadian sampah model beginilah yang menjadi titik tolaknya, menjadi suatu nilai permatanya, terselip di kedalaman moral menjijikkan itu suatu nilai mulia bernama kejujuran. Bukowski, menurut sang penulis merupakan sosok paling jujur dalam berkata-kata, yang kasar ia akan katakan kasar, yang menjijikkan akan dia katakan demikian.

Bukowski amat sangat tidak peduli, bodo amat dengan di sekelilingnya, dia akan melakukan apa pun yang ia mau tanpa harus berpikir menimbang-nimbang pandangan orang. Hidup model begini telah ia lalui hampir seluruh waktunya, dia minum alkohol, narkoba, judi dan pelacuran. Dan herannya, semua ini dia lakukan, dengan penuh kejujuran. Dia merdeka seratus persen. Tidak terjajah oleh evaluasi orang lain yang dianggapnya tidak penting.

Kemudian hasilnya? Ternyata ia sukses. Ada salah seorang editor di sebuah penerbitan independen kecil menaruh minat yang aneh terhadap dirinya. Bahkan sang editor ini menawari Bukowski segepok uang atau penjualan buku yang menjanjikan. Bukowski tentu semakin merasa merderka, masih ada orang tertentu yang mengapresiasi dirinya tanpa harus memintanya berubah dan dikasih upah pula. Ini kemerdekaan dengan bonus durian runtuh.

Tapi begini, bangunan logika yang hendak disampaikan penulis buku dengan menghadirkan analogi cerita Bukowski untuk memperkuat bangunan logika tadi sepertinya kurang pas adanya. Mark Manson, sang penulis buku ini sebenarnya hendak menyampaikan bangunan logika bahwa dalam hidup ini kita jangan pernah takut untuk gagal, artinya kita tidak boleh merasa nyaman dengan posisi kita saat ini sehingga enggan untuk mencoba sesuatu yang lain sebab takut resikonya adalah datang kegagalan yang menurunkan derajat kenyamanannya.

Bodo amat saja dengan kesuksesan atau kenyamanan, entah yang telah kamu punya atau belum kamu punya. Tidak perlu takut. Tidak perlu menjadikan sukses/nyaman sebagai destinasi dan ekspektasi, sebab jika demikian adanya—pada waktu yang bersamaan kamu membayangkan ekspektasi kesuksesan, di situ akan hadir sekelebat runtuhnya kesuksesan tersebut, dan kamu akan merasa sedikit takut dan enggan mencoba meraihnya. Sudah, biarkan saja tanpa target, lakukan apa saja yang kamu mau, tanpa takut gagal, tanpa ada harapan kesuksesan, toh ketika harapan kesuksesan itu muncul maka di detik yang sama akan datang juga ketakutan untuk tidak sukses. Hiduplah tanpa beban, lakukan hal-hal yang kamu bisa dengan sikap bodo amat akan hasilnya, dan yakinlah apa yang kamu lakukan akan menjadi sesuatu yang berharga, entah untuk siapa dan entah kapan. Keep going!

Nah, bangunan logika macam begini menjadi tidak pas ketika cerita Bukowski dihadirkan. Kesuksesan bagaimana pun juga ada peran dari orang lain, dan seperti Bukowski ada peran dari sang editor. Dan jika dalam satu diri seseorang terkumpul di dalamnya secara bersamaan, positif dan negatif, maka akan banyak orang kesusahan melihat sisi positifnya tadi yang bercampur baur dengan negatifnya. Cermatilah Bukowski, dari sekian banyak editor, ternyata hanya satu editor sinting yang dapat melihat sisi positifnya. Seandainya Bukowski mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik, akan ada peluang untuk hadir lebih banyak editor terhadap dirinya.

Mark Mason mungkin akan bilang, kalau Bukowski nanti berusaha menjadi lebih baik secara person, maka itu tandanya dia tidak menjadi diri sendiri, dia munafik dan tidak jujur. Namun pertanyaannya sekarang, apa yang membuat kita yakin bahwa Bukowski yang sekarang dengan nuansa pribadi sampah begitu adalah wujud riil dari Bukowski itu, Bukowski dengan kejujuran? Jangan-jangan dia begitu juga lari dari kenyataan pahit dahulu sehingga ia memanipulasi dirinya untuk menghindari pahit itu. Munafik juga bukan?

Hal yang membuat saya terkejut lainnya dari buku setebal 246 halaman ini adalah tentang pernyataan pengalaman positif dan negatif. Menurut Mark Manson, jika seseorang terus menerus mengais pengalaman positif maka sesungguhnya ia sedang menggali pengalaman negatifnya; paradoks jika ia dapat menerima pengalaman negatifnya ia justru akan menimba emas pengalaman positif. Ini adalah logika amazing menurut saya.

Ada benarnya juga, bahwa jika seseorang dalam suatu kondisi terus menerus berusaha baik setiap saat, maka efeknya adalah ketidakpuasan. Kamu akan mendarat dari ketidakpuasan ke ketidakpuasan lainnya. Selain itu, perlu disadari benar-benar, jika kita meneguhkan diri untuk terus menerus menjadi baik setiap saat, maka diakui atau tidak di kedalaman alam bawah sadar kamu sendiri terpatri suatu pengakuan bahwa diri kamu memang tidak baik. Semakin mati-matian kita berusaha ingin kaya (positif), maka kita merasa semakin miskin dan tidak pernah kaya-kaya. Tak bersyukurlah kita.

Beda halnya kalau kita menerima ketidakmampuan kita, kemiskinan kita, kesepian kita; maka yang berkembang dalam diri ini adalah syukur dan rendah hati. Tidak akan kita merasa jumawa ketika kita berhasil meraih sesuatu toh kita juga masih tidak berprestasi apa-apa, masih tidak baik, kita masih negatif, dan tidak punya apa-apa. Pengakuan dalam diri yang hina ini akan meneguhkan langkah untuk berprestasi dan meraih hal-hal positif; dan ketika sudah sampai pada prestasi positif tadi kita tetap mengakui bahwa diri ini masih banyak kurangnya. Negatif goes to positif. Bersyukur dan rendah hati, low profile, mantab.

Tapi logika positif-negatif ini, yang oleh Mark Manson kemudian diberi nama sebagai ‘hukum keterbalikan’, sepertinya masih perlu dikritisi. Jika Mark Manson mengusung nilai-nilai kejujuran dalam diri kita (sebagaimana cerita Bukowski tadi), maka mengais nilai-nilai negatif dalam diri ini kemudian itu berubah menjadi pengalaman positif dan menjelma prestasi, itu justru sebenarnya adalah ketidakjujuran, kemunafikan. Kalau kita benar-benar mau jujur, ya ketika kita sudah negatif alias tidak baik, ya sudah terima saja, jahat yasudah jahat saja, tanpa kita harus berkembang menjadi dan meraih hal baik di mata orang-orang. Karena kalau kita sampai berkembang maka kita tidak menjadi diri sendiri, itu munafik.

Ini pula sejalur dengan kesimpulan di bab 1 yang berbunyi “Jangan berusaha”, maka ketika kita sudah berdamai dengan pengalaman negatif kita, yasudah jangan berusaha lagi. Kamu jahat yasudah terima statusmu sebagai penjahat. Kamu bajingan, yasudah jangan berusaha mengais usaha untuk baik. Bodo amat dengan penilaian orang lain. Jujurlah menjadi orang, dan jadilah orang yang jujur. Meski jujur kalau diri ini jahat dan bajingan.

Nah, di sinilah kerancuan logika dari buku dari penulis blog yang telah dibaca oleh berjuta-juta pembaca, Mark Manson. Tapi tunggu, mungkin bukan logika buku Mark Manson yang rancu, melainkan saya saja yang tidak paham-paham.

Yang tergambar di benak saya tentang isi buku ini, pada saat teman saya pertama kali mengirimkan foto buku ini dan menawarkan kepada saya untuk membacanya, adalah tentang teknik terkait bagaimana bersikap masa bodo. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan, semacam ritual begitu. Tapi ternyata tidak. Buku ini sepertinya adalah serangkaian esai pribadi dari sang penulis yang kemudian dipaksa untuk saling berkesinambungan, dan karenanya tidak aneh jika saya terkadang menemukan ketidaksinambungan logika seperti di atas tadi. Tapi secara keseluruhan buku ini menarik, memberikan sudut pandang lain tentang bagaimana memaknai hidup dan memaknai kesuksesan dalam hidup itu sendiri. Memberikan pesan untuk tidak takut gagal, karena jika kamu takut gagal sama halnya dengan anda takut sukses; begitu bunyi hukum keterbalikan ala Mark Manson ini. Wonderful.

Akibat dari sikap dan keyakinannya terhadap hukum keterbalikan ini, Mark Manson juga menampilkan kritiknya terhadap gaya pendidikan yang mencoba memupuk peserta didiknya untuk berperasaan positif tentang dirinya, mencoba menanamkan pemikiran bahwa dirinya berharga. Efek samping dari pendidikan model begini adalah generasi selanjutnya akan terkena wabah ‘diri istimewa’, semua orang merasa dirinya istimewa. Nah, menariknya Mark Manson menyajikan sesuatu yang kontras, bahwa dalam kehidupan yang ada adalah realitas, hitam-putih; kehidupan tidak akan selalu menyajikan kepada anda fasilitas yang menyenangkan, dan dengan demikian bagi orang-orang yang terkena imbas wabah pendidik berperasaan positif tadi tidak akan selalu menemukan tempat yang bagus sesuai standar isi pikiran positifnya. Alhasil, ketika dirinya berada di tempat kerja yang tidak pada standar dirinya, ia akan cenderung menolak dan alibinya aneh-aneh, dan diakhiri dengan kalimat pamungkas, ‘Saya tidak bahagia’. Kesimpulannya, pendidikan yang mencekoki peserta didik dengan pikiran positif dan penghargaan diri adalah pendidikan yang pelan-pelan menggiring peserta didik untuk angkuh, sok percaya diri. Padahal, siapalah dirinya yang hanya seonggok daging.

Bahkan jika diteruskan, berpikiran positif ini juga dapat memberikan dampak ekstrim, yaitu lahirnya para penjahat. Bagaimana tidak, para penjahat yang lahir dari rahim pendidikan berpikir positif dan menghagai diri sendiri dengan harga tinggi akan menganggap diri mereka yang jahat adalah diri yang berharga di antara penjahat lainnya. Para penjahat juga akan selalu berpikir positif tentang usahanya, berpikir positif rencana kejahatannya nanti malam akan berhasil, dan akan berlanjut mencari ide kejahatan lebih fenomenal lainnya dan berpikir positif ide tersebut akan berhasil. Nah, bukankah ini bentuk berpikir positif versi yang lain? Tapi intinya sama? Lebih baik kita renungkan saja.

Kembali ke buku. Kesegaran dari buku ini terletak pada kisah-kisah nyata yang sengaja dihadirkan untuk menguatkan opini sang penulis. Ada beberapa kisah menarik yang saya tandai, misalnya kisah tentang Hiroo Onoda, sang Letnan dari Jepang yang sudah memantapkan hati untuk patuh pada perintah tanpa kompromi, sampai-sampai ketika perang sudah berakhir Onoda masih saja menganggap perang belum usai dan masih membunuh siapa saja yang menghalangi misinya, dan malah di akhir cerita dirinya lebih merasa bahagia ketika sedang bersembunyi di Lubang-Filipina dan menjalankan tugas tempur daripada hidup di Jepang yang damai pasca perang namun gaya hidupnya sama sekali berbeda, dan dia merasa perjuangannya sia-sia; ada juga cerita tentang Norio Suzuki, dimana ia adalah seorang petualang yang tertarik untuk menemukan dan menyadarkan Onoda tadi yang tetap yakin bahwa perang belum berakhir. Suzuki ini mempunyai misi hidup aneh, yaitu hanya untuk mencari tiga hal: ‘Letnan Onoda, panda, dan Yeti’ dengan urutan yang sama persis. Aneh bin ganjil.

Atau kisah heroik Malala Yousafzai, seorang bocah perempuan Pakistan berusia 11 tahun, yang dengan lantang menulis secara online, “Beraninya Taliban merampas hak saya untuk mendapatkan pendidikan?” Sosok Malala ini sungguh di luar dugaan, dia tetap tidak kapok dengan kejadian yang hampir membunuh dirinya setelah ditembak tepat di kepalanya, dia justru tidak kapok untuk menentang tirani dan akan terus begitu. Di usia seingus dia, yang biasanya masih nyaman dengan mainan boneka, ia justru memilih bermain dengan peluru di kepalanya. Anehnya tapi nyata.

Tapi sampai di sini saya perlu menyampaikan dugaan saya tentang mengapa Mark Manson mempunyai kegelisahan demikian sampai ia tuangkan dalam bukunya ini. Sepertinya ia kebingungan sendiri tentang realitas hidup, yang mana di dalam hidup ternyata terdapat variabel tak terhingga yang sangat acak modelnya. Sehingga untuk sampai pada kesuksesan, akibat hadirnya variabel-variabel acak tadi, tidak bisa ditentukan jalan paten untuk sampai kepadanya. Ada yang biasa-biasa saja, tidak diniati usahanya, tapi tiba-tiba meledak sukses; ada yang berusaha keras, sukses, tapi tiba-tiba bosan dengan suksesnya dan akhirnya menggembel; ada yang sudah sukses mentereng tapi berfoya-foya seolah ia hendak mengatakan bahwa kesuksesan adalah sebuah kesalahan; dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan varibael lain.

Tentu saja ketika kita berusaha keras, mengejar cita-cita, sampai kita membuat list kerja untuk memaksimalkan kinerja kita mencapai cita-cita, tapi tiba-tiba terdengar kabar bahwa kawan kita yang tidak melakukan apa-apa, hanya kebetulan menulis puisi sambil mabuk alkohol, dan puisinya meledak fenomenal. Terkenallah dia. Dan kita hanya bisa berkata, beginikah jalan kesuksesan itu? Yang bekerja keras belum dapat apa-apa, tapi yang santai minta ampun justru dapat menang lotre. Kampret!

Kemudian ada juga seseorang yang sudah sukses tapi takut keluar dari zona nyamannya, dia tidak berani melakukan hal baru karena takut dicap tidak sukses lagi. Dia sukses dalam satu bidang, namun dia tidak berani memulai hal baru dimana ia masih akan memulai dan tidak tahu apa-apa, sehingga suksesnya sekarang menjadi belenggu bagi dirinya untuk melakukan hal-hal bodoh di luar kemampuannya. Sebab kalau dia melakukan hal bodoh, sukses yang pernah dilakukannya akan runtuh.

BODO AMAT

Bodo amat dengan semua itu. Bodo amat dengan semua penilaian orang lain. Lakukanlah hal-hal yang ingin kamu kerjakan tanpa harus menimbang-nimbang apakah nanti memalukan atau tidak, sukses atau tidak. Rileks saja, lakukanlah sesuatu dengan menyenangkan, nikmati itu, pejamkan mata, nikmati prosesnya.

Bodo amat. Bentuk suksesmu sendiri, bukan sukses versi orang lain dan kamu harus mengikuti tipe sukses itu dan menerapkan pada diri kamu. Bodo amat kita akan gagal, sebab gagal juga merupakan bagian dari hidup. Kalau kita hanya perhatian sama kesuksesan itu artinya kamu tidak hidup. Takut gagal artinya juga takut sukses. Berani sukses maka itu artinya juga berani gagal. The life is the unfinite probability, the less you accept that, the more you skip life itself; bahwa hidup adalah tentang probabilitas tak terhingga, kita tidak bisa hanya menerima satu kemungkinan sukses dan di sisi lain menolak kemungkinan gagal. Terima saja semua itu. Nikmati prosesnya.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
Rifqi Rahman

Mahasiswa Pasca UINSA Surabaya & Pegiat Literasi SLF-UINSA

Komentar

komentar

Pilih Format Postingan
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Artikel
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item