Catatan Buku: Markesot Bertutur | Emha Ainun Najib

7 min


  • Emha Ainun Najib, Tentang Demokrasi
  1. Jertim, Jerbar dan Indonesia (Markesot Bertutur, 45-46)

Di Jerman Timur, bahkan di warung-warung atau tempat-tempat resmi, hampir tak ada orang tersenyum. “Memang tak ada perlunya tersenyum. Mereka itu orang yang tak memperoleh demokrasi, tak punya kebebasan omong, sehingga selalu mangkel kepada bangsa lain. Kalau mereka bertugas jadi pelayan toko atau restoran, tak merasa perlu tersenyum toh upahnya sama saja…”

“Mau ada pelanggan atau tidak, itu urusan pemerintah. Mereka para pelayan tak rugi apa-apa. Kalau bisnis restoran maju, juga gaji tidak naik. Lha wong itu restoran negeri. Itulah perlunya sector swasta. Lihat saja, Jerman Timur yang antiswasta itu jadi buram dan terbelakang, miskin dan begitu-begitu terus, mobilnya hanya satu macam. Beda dengan Jerman Barat yang menjulang…” Ya meskipun di Jerman Timur tidak ada gelandangan, sedangkan di Jerman Barat banyak.

“Memang di Jerman Timur orang dicukupi semua keperluan meskipun terbatas dan sederhana. Makan cukup, minum, sandang, rumah, air, listrik, apa saja asal tidak mewah. Syaratnya, jangan omong macam-macam, pokoknya ikut saja apa kata pemerintah.

Kalau di Jerman Barat, orang bebas berpendapat, bebas bersaing, sehingga sangat maju, tapi juga banyak orang kalah dan terpinggirkan menjadi gelandangan atau gila.

Kalau di Indonesia ini lengkap. Orang sangat kaya ada, sangat miskin ya ada. Orang bebas omong ya ada; tak bebas omong juga ada. Pokoknya paripurna. Ada pembagian sendiri-sendiri. Ada yang bebas omong seenaknya, ada yang ngomong sekecap dikeplak.

Tapi kelebihannya Negara kita, tidak ada yang tidak tersenyum. Biar melarat tetap bisa tertawa. “Kita memang bangsa luar biasa. Kita tetap tersenyum, ada kepentingan atau tidak.”

 

  1. Demokrasi Pancasila (Makesot Bertutur, 48)

Di Indonesia, kita sudah bergelimang oleh Demokrasi Pancasila. Bergelimang, bergelepotan, bahkan tenggelam sepenuhnya dalam Demokrasi Pancasila. Sedemikian tenggelamnya sehingga banyak orang tak lagi punya jarak dengan Demokrasi Pancasila. Dan karena tak punya jarak, tentu saja ia tak lagi bisa melihat Demokrasi Pancasila. Kan, untuk bisa melihat, kita butuh jarak.

 

  • Emha Ainun Najib, Sudut Pandang Agama
  1. Mata Allah (Makesot Bertutur, 54-55)

Rupanya selalu ada pertentangan dalam merumuskan apa yang disebut baik, jujur, mulia, benar, konstitusional, edukatif, atau apa saja. Bergantung mata siapa yang memandangnya. Bergantung telinga siapa yang mendengarkannya. Bergantung hati siapa yang merasakannya. Bergantung mulut siapa yang mengucapkannya. Bergantung siapa yang punya kepentingan, siapa yang berkuasa… Lantas, Markesot mesti menaati yang mana?

Manusia harus melihat sesuatu dengan mata Allah. Melihat dan menilai serta mengerjakan sesuatu secara mata dan tangan Allah. Sebab, mata ini milik Allah, tangan dan segala sesuatu ini milik Allah. Maka, apa hak manusia—yang tak bisa bikin matanya sendiri ini—untuk tidak melihat sesuatu secara Allah.

Namun, sudah dialami, kalau sungguh-sungguh melihat kehidupan dan segala persoalannya ini secara Allah, betapa banyak bahaya yang dia hadapi. Apakah dunia ini penuh dengan musuh Allah?

 

  1. Budaya dan Pedoman Agama (Makesot Bertutur, 123-124)

Nilai apa yang sebaiknya dijadikan pedoman menentukan aurat? Nilai etika ketimuran? Nilai budaya? Nilai estetika? Atau apa? Kalau berpedoman pada budaya, itu relative sifatnya. Tidak ada patokan dasarnya. Dulu, buka betis sedikit disawat bakiyak, sekarang buka payudara separuh malah orang senang. Dulu, goncengan lanang-wedhok yang bukan muhrim langsung dirasani wong sak kecamatan, sekarang kumpul kebo saja makin luntur sanksinya. Jadi, relatif. Nisbi… tidak tentu. Dalam budaya tertentu, bersenggama dengan anjing atau kuda tidak ditabrak oleh apa pun, malah dimantapkan oleh hak asasi. Orang menyangka hak asasi bisa menjawab segala-galanya. Hak asasi dan kebebasan. Burung-burung punya hak asasi dan kebebasan untuk terbang tinggi sampai ke matahari, mereka akan sirna terbakar. Burung tak bakal melakukan itu karena mereka patuh dalam tradisi Allah. Tapi, banyak manusia lebih bodoh daripada burung-burung.

Maka, pedoman satu-satunya yang tegas dalam soal itu adalah agama. Budaya manusia tinggal menerjemahkannya.

 

  • Emha Ainun Najib, Laki-laki dan Wanita (Markesot Bertutur, 75)

Rakyat itu berposisi “wanita” di hadapan Negara dan pemerintah yang “lelaki”. Alam itu berposisi “wanita” di hadapan manusia yang “lelaki”. Juga agama itu berposisi “wanita” terhadap subjek manusia yang “khalifatullah”.

 

  • Emha Ainun Najib, Petunjuk (Markesot Bertutur, 95)

Pada mulanya, minta petunjuk itu baik-baik saja dan berfungsi positif. Pertama, manusia tidak sempurna: Dia harus selalu berendah hati dan siap mengakui kekurangan dan kelebihannya. Kedua, manusia perlu bercermin satu sama lain. Seseorang merupakan cermin bagi lainnya. “Petunjuk” dari orang lain sesungguhnya bermakna ishlah (perbaikan, penyempurnaan, pemolesan, seleksi, penyaringan). Ketiga, minta petunjuk itu menunjukkan kesadaran etis bahwa manusia tidak boleh egois dan sombong dengan pendapatnya sendiri.

Ketiga makna tersebut berlaku apabila mekanisme “petunjuk” berlangsung pada dataran yang horizontal. Tetapi, apabila mekanismenya vertikal, minta petunjuk bisa berarti pembodohan diri, bentuk penjilatan, pelemparan tanggung jawab, rendahnya sikap professional, serta pola manajemen robot.

Harusnya, atasan manusia hanyalah Allah. Bahkan, Muhammad Saw. dan para nabi pun bukan atasan manusia, sebab di mata Allah, semua manusia berderajat sama, hanya distratifikasikan kualitas takwanya. Hanya Allah atasan manusia. Malaikat pun bukan. Bahkan, malaikat disuruh oleh Allah bersujud kepada Adam.

 

  • Emha Ainun Najib, Hakikat Hidup (Markesot Bertutur, 99-100)

Apa yang mengendap di bawah sadar manusia adalah apa yang dia intensifi dalam hidupnya. Yang muncul dari mulut mereka ketika tidak sadar bukanlah ilmu pengetahuan, atau apapun yang bisa dikendalikan atau dirancang oleh “perintah otak atau kehendak”, melainkan hakikat hidup. Hakikat hidup bukanlah apa yang kita ketahui, bukanlah buku-buku yang kita baca atau kalimat-kalimat yang kita pidatokan, melaikan apa yang kita kerjakan, apa yang paling mengakar di hati, jiwa, dan inti kehidupan kita.

Kalau kelak di alam kubur para malaikat bertanya, “Man rabbuka?” kita tak bisa merencanakan jawabannya sekarang. Sebab, yang menjawab bukan pengetahuan di otak kita, melainkan amal shaleh kita atau praktik empiris dalam pengalaman hidup kita. Itulah sebabnya, dalam pelajaran-pelajaran dari Pak Guru Ngaji dulu dikatakan bahwa yang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu adalah tangan kita, kaki kita, dan seterusnya. Seluruh hakikat hidup kita mengemukakan dirinya secara jujur, tidak bisa kita rencanakan, tak bisa kita politisasi atau kita manipulasikan.

Maka juga ketika malaikat bertanya, “Siapa Tuhanmu?”, itu tidak dalam adegan verbal. Melainkan, pada tahap itu, para malaikat meneliti hakikat hidup si terkubur. Siapa Tuhanmu? Maksudnya: Apa yang kau nomorsatukan selama hidupmu? Yang menjawab bukan mulut lagi, melainkan realitas sejarah kita selama hidup di dunia. Jadi, Tuhan kita atau apa saja yang kita nomorsatukan dalam hidup, mungkin harta benda, hedonism, popularitas, karier pribadi, egoism, Mercy Tiger, atau apa saja yang memang kita sembah, kita utamakan dari lain-lainnya dalam kehidupan.

 

  • Emha Ainun Najib, Perjuangan (Markesot Bertutur, 136)

“Perjuangan ialah perjuangan. Sejarah dan Tuhan tidak mencatat kemenangan atau kekalahan, tapi yang dicatat adalah perjuangan itu sendiri…”

 

  • Emha Ainun Najib, Pendidikan, Pekerjaan dan Rukun Iman
  1. Pekerjaan dan Rukun Masa Depan (Makesot Bertutur, 176)

Ada yang bilang negeri ini “negeri selembar kertas”. Masyarakat kita “masyarakat selembar ijazah”. Silahkan ngomel sistem pendidikan kita tidak bermutu, kesempatan berpendidikan tidak parallel dengan kesempatan memperoleh kerja, atau canangkan proyek deschooling society (masyarakat tanpa sekolah), tapi pokoknya kalau tidak punya ijazah, ya nasibnya dijamin lebih ndlahom disbanding dengan yang punya ijazah.

Silahkan menggerutu bahwa untuk jadi abdi dhalem modern rendahan saja perlu nyogok beberapa ratus ribu, untuk jadi temenggung perlu modal beberapa ratus juta, serta dari pintu ke pintu harus disediakan kantong upeti. Tapi pokoknya, kalau rukun iman itu iman ini iman itu, maka rukun masa depan pertama-tama adalah ijazah.

 

  1. Pekerjaan (Makesot Bertutur, 326-327)

Di Amerika Serikat, orang tidak malu bekerja jadi apa saja asal bukan gigolo atau penjambret. Orang juga tidak suka mengejek atau merendahkan. Kita bisa membantu menyapu rumah orang tanpa kita dilecehkan sebagai “buruh kasar”, sebab hubungan kita dengan pemilik rumah bukanlah hubungan feudal, melainkan hubungan fungsional dan professional.

Doktor Mark Blavatsky, bekerja sebagai pelayan restoran selama bertahun-tahun karena dia tak setuju pada politik luar negeri AS yang mentang-mentang, dan lain-lain. Padahal, si Mark bisa kaya raya dengan doktornya.

 

  • Emha Ainun Najib, Doa (Markesot Bertutur, 270)

Kalau begitu, doa memang tidak harus berupa kata-kata. Kalau begitu, setiap implementasi hidup itu sendiri substansinya boleh jadi juga doa. Gadis-gadis yang berjilbab dan berpakaian rapat rangkap itu boleh jadi juga bermaksud berdoa tanpa kata-kata agar dilindungi oleh Allah dari kejahilan dunia. Dan sebaliknya bagi mereka yang sengaja ngeler auratnya. Itulah salah satu contohnya.

 

  • Emha Ainun Najib, Eksploitasi Islam (Markesot Bertutur, 282)

Saddam Husein, “Kan, Islam memang selalu dieksploitasi. Kalau pas berjuang, Islam dipakai; kalau sudah mapan, Islam diinjak. Itu terjadi di segala bidang, politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Juga di segala level—internasional sampai lokal.”

 

  • Emha Ainun Najib, Motivasi Melawan Diri (Markesot Bertutur, 309)

“Kenapa kita tidak bertumbuh menjadi tegar dan kuat dalam kehidupan yang dikalahkan? Hampir tiap hari kita mengasah keyakinan bahwa orang lain boleh mengalahkan kita, tetapi kita jangan sampai pernah kalah melawan diri sendiri…”

 

  • Emha Ainun Najib, Bergesernya Nilai (Markesot Bertutur, 333)

Hubungan kemanusiaan makin sekunder. Yang utama adalah hubungan jual-beli, hubungan yang menyangkut manusia ke dalam perhitungan ekonomis. Pola persentuhan antarmanusia yang dulu bersifat natural religious, kini digeser menjadi hubungan fungsional-profesional. Itu pun dipersempit menjadi ‘fungsional’ maksudnya ‘eksploitatif’, dan ‘profesional’ maksudnya ‘komersial’.

 

  • Emha Ainun Najib, Manusia Udara (Markesot Bertutur, 357-358)

Segala yang terkena pedang para pendekar kita itu tumpas, pecah, terbelah, teriris. Boleh daging, tulang, pohon, genting, atau apa saja.

Tapi udara tak terluka sedikit pun. Padahal, udaralah yang paling terkena oleh lalu lintas pedang para pendekar. Pedang menebas-nebas ke sana kemari, udara diterjang terus-menerus, tapi udara tetap seperti apa adanya. Tak terluka, tak teriris. Tak terbelah. Tak mengaduh. Tak kesakitan. Tak terkena akibat apa-apa, meskipun jelas pedang menebas-nebasnya.

“Bisakah orang hidup ini meniru udara? Silahkan orang memukul, tapi aku tak terpukul. Silahkan menyakiti, aku tak sakit. Silahkan melukai, aku tak luka. Aku udara…”

 

  • Emha Ainun Najib, Bahagia dan Cinta (Markesot Bertutur, 361-363)

“Apa bahagia sama dengan senang, nikmat, nyaman, enak, tenteram, gembira, dan seterusnya?”

“Tidak. Tidak sama. Enak, sedap, nyaman termasuk rendah tingkatnya. Ngintip wanita mandi itu sedap, tapi bukan bahagia. Minum kopi sambil ngemut rokok itu nikmat, tapi kan bukan bahagia. Bahagia lebih tinggi tarafnya. Kalau senang atau sedap ada lawan katanya, tapi bahagia tidak. Senang itu lemah, karena bisa diubah menjadi benci atau sedih. Sedap itu lemah, karena bisa diubah menjadi kecut. Sebab apa? Sebab, senang atau sedap bergantung pada kondisi objektif. Ia bersifat temporal, situasional. Sedangkan bahagia itu abadi, kuat perkasa, dan tidak bisa diubah. Sebab, bahagia bergantung pada sikap batin, bergantung pada cara seseorang mengolah mentalnya dalam menghadapi kehidupan.”

“Apakah ada alat untuk mencapai kebahagiaan?”

“Cinta. Cinta kualitasnya sejajar dengan bahagia, ruh, dan diri. Ruh itu inti kemakhlukan manusia. Ruh tidak lelaki, tidak wanita. Ia utuh. Bahagia hanya bisa dicapai oleh pengolahan ruh. Karena ruh juga tidak lelaki tidak wanita, bahagia pun tidak antagonik: tidak ada lawan katanya. Ia utuh.”

“Seperti friksi antara lelaki dan wanita, maka ada juga konflik antara senang dan benci, antara sedap dan kecut, antara nyaman dan sumpeg, dan seterusnya. Tapi, dalam kebahagiaan, tak ada konflik. Seperti juga dalam cinta, tak ada konflik. Misalnya, Anda tidak senang pada kelakuan tertentu dari suami atau istri, tapi sementara itu anda tetap mencintainya. Jadi, senang itu bergantung pada keadaan. Kalau istri setia, ya anda senang. Kalau tidak, ya tidak senang. Tapi kalau cinta, ia tak bisa digugurkan oleh keadaan apa pun. Biar kekasih anda menyakiti anda, anda tetap mencintainya. Karena tingkat mutu cinta lebih tinggi daripada jiwa, di mana ada lelaki dan ada wanita, ada senang dan ada benci.”

“Apakah benci bukan lawan kata dari cinta?”

“Bukan. Bacalah Kahlil Gibran. Benci adalah cinta yang disakiti. Benci adalah cinta yang merasakan sakit, tapi yang merasakan sakit itu ya tetap cinta namanya. Jadi, sekali lagi, cinta itu utuh, kental, abadi. Seperti ruh, seperti rasa bahagia itu sendiri. Itu makhluk batiniah yang amat dekat letaknya di sisi Allah. Bukankah Allah juga tidak lelaki tidak wanita?”

“Apakah kebahagiaan ada hubungannya dengan kekayaan, kemiskinan, status sosial, pangkat dan lain-lain?”

“Kata ketua suku Ammatoa di Kajang, Sulawesi Selatan, orang menjadi bahagia kalau sudah tidak punya apa-apa lagi. Artinya, ia tidak dibebani oleh berbagai macam kebergantungan. Semua miliknya sudah ia pasrahkan kembali kepada Allah lewat fungsi-fungsi sosial. Kita ini jauh lebih kaya materi dibandingkan Muhammad. Tapi, atau justru karena itu, kita kalah bahagia.”

“Tapi, Nabi Sulaiman kan kaya raya?”

“Ya! Marilah kita tiru Sulaiman. Mencari nafkah sebanyak-banyaknya. Sulaiman adalah orang kaya raya. Kaya materi, kaya batinnya. Kan kebahagiaan tidak bergantung pada kaya atau miskin, tapi bergantung pada sikap batin. Jadi, boleh kaya boleh miskin, asal sikap batinnya berorientasi ke cinta dan ruh.”

 

  • Emha Ainun Najib, Manusia Ruang dan Manusia Perabot (Markesot Bertutur, 372-373)

“Banyak orang yang tidak menyediakan ruang bagi orang lain, karena dirinya dipenuhi hanya oleh dirinya itu sendiri. Ia sekadar perabot yang tak bisa ditempati oleh perabot, dan justru hidup untuk merebut ruang bagi dirinya sendiri belaka. Manusia-manusia semacam ini banyak sekali jumlahnya. Dalam psikologi, itu disebut egoisme. Dalam sistem politik, itu namanya otoritarianisme. Sementara manusia ruang adalah manusia yang integritas sosialnya tinggi, yang sadar demokrasi dan distribusi sosial, yang paham dan mewujudkan kekhalifahan bersama dengan manusia dan makhluk-makhluk lain. Empati sosial, cinta kasih, dan demokrasi tidak terbatas pada pemenuhn hak-hak bagi manusia, namun juga semua makhluk. Tanaman berhak untuk tumbuh, tanah berhak untuk bernafas, ayam berhak untuk berkembang biak agar ia memperoleh kemuliaan tatkala disembelih dan dimakan manusia. Kalau seseorang menjadi pemimpin, ia tak sekadar memimpin masyarakat manusia, tapi juga memimpin masyarakat makhluk yang luas—seperti Nabi Sulaiman. Ia memimpin hak-hak binatang, batu dan kerikil, padi dan hutan. Di situlah antara lain terletak kesalahan ideology pembangunan modern yang merusak alam, bahkan merusak manusia.”

 

Klik salah satu link grup di bawah ini dan mulai bergabung dengan ribuan teman yang lain untuk berbagi informasi pendidikan dan diskusi:
Klik Gabung Channel Info Pendidikan dan Karir
Like Facebook Starla
Follow Instagram Starla
Follow Twitter Starla
GRUP TELEGRAM
Info Pendidikan Nasional, Info Karir dan Kerja, Info Beasiswa, Info CPNS & PPPK.
GRUP FACEBOOK
Info Pendidikan, Info Karir dan Kerja, Info Beasiswa, Info CPNS & PPPK.

Rifqi Rahman

Pasca UINSA Surabaya & Pegiat Literasi SLF-UINSA
BAGIKAN SEKARANG !

Share to Care

Ada banyak temanmu yang harus tahu tentang ini 😊

Pilih Format Postingan
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Artikel
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format