Resensi Buku: Dilarang Mencitai Bunga-Bunga | Kuntowijoyo

18 min


‘Sahih’ Vs ‘Maklum’

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah Ulasan Kumpulan Cerpen Kuntowijoyo, Dilarang Mencitan Bunga-bunga

 

Maaf? Kau regas segenap pucuk pengharapanku, kau patahkan, kau minta maaf?” Begitulah salah satu kalimat yang dilontarkan oleh tokoh Zainuddin kepada Hayati dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang kisahnya diadopsi dari novel karangan Buya Hamka dengan judul yang sama pula.

Saya merasa puas dengan kalimat itu. Bagi saya, itu adalah kalimat paling laki-laki dan langsung njleb. Sampai di situ pula, saya jadi ber-jangan-jangan, bahwa jangan-jangan seorang pria sekaliber Buya Hamka pun pernah mengalami pengalaman pahit tentang pujaan hati, tentang perempuan. Karena, karya imajinatif seperti halnya novel, cerpen dan lain-lain itu sepertinya sedikit banyak juga terilhami oleh pengalaman hidup, apalagi sampai dapat menyentuh laiknya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini.

Kalimat itu seperti membius saya untuk menjadi lebih laki-laki dan bahkan semakin percaya diri dengan gender laki-laki saya. Bahkan di detik kalimat itu terucap, pada saat saya menonton film tersebut, saya membatin bahwa tidak ada kebahagiaan lain bagi laki-laki selain menjadi lebih laki-laki. Terdengar lucu memang, tapi demikianlah kalimat laki-laki dari film itu menyihir saya yang juga laki-laki.

Tapi, sungguh Maha Besar Tuhan yang tidak pernah alpa dengan unsur ‘adil’ dalam menciptakan segala ciptaan-Nya. Laki-laki, sedemikian superior dirinya sehingga menjadi sosok laki-laki, ternyata tidak akan pernah menjadi laki-laki sejati jika tanpa unsur penyeimbangnya secara ‘adil’, yaitu perempuan. Anda boleh saja mengaku laki-laki, tapi jangan lupa bahwa ada unsur lain yang berlawanan yang bersamanya anda akan menjadi laki-laki yang komplit dan ‘adil’, tidak ada suatu unsur pun yang dapat berdiri sendiri di dunia ini dan ia pasti akan menjadi satu kesatuan utuh dan eksis justru karena ada unsur lain yang menyeimbangkan secara ‘adil’. Maka dari itu, saya kira teori Yin dan Yang sangatlah masuk akal.

Oleh karenanya, ketika Zainuddin sudah termakan dengan keputusannya sendiri untuk menjadi lebih laki-laki dan mengabaikan unsur lain secara tidak adil, ia pun menangis merengek-rengek bagai anak kecil yang tak kesampaian niat hatinya membeli mainan. Ia sadar, bahwa ia sudah tidak adil terhadap dirinya sendiri yang mendamba bahagia, juga tidak adil secara bersamaan terhadap orang lain yang ketika bersama dirinya orang tersebut akan bahagia.

***

Barangkali saya agak berbeda, secara sudut pandang, dengan Bernard Batubara selaku penulis kata pengantar dari kumpulan cerita pendek Dilarang Mencintai Bunga-bunga karangan Kuntowijoyo terbitan 2016 itu. Dalam hal ini Bara lebih menyorot tentang ketidakseimbangan yang terjadi dalam realitas, dan kumpulan cerpen ini hadir hendak menyentilnya. Ketidakseimbangan itu misalnya, realitas yang lebih condong kepada maskulinitas (Dilarang Mencintai Bunga-bunga), sehingga laki-laki haruslah seperti laki-laki; kemudian prasangka buruk yang dibangun dari perspektif yang sama sekali tidak seimbang, yaitu terbangun dari pihak tertentu yang kemudian menjadi landasan berprilaku terhadap pihak lainnya (Anjing); juga dalam monopoli ekonomi yang dengan jelas tidak mencerminkan keseimbangan dalam hidup bermasyarakat (Ikan-ikan Dalam Sendang); dan lain-lain.

Poin yang saya dapatkan dari kumpulan cerpen ini adalah tentang ‘adil’ yang tidak selalu sama dengan sameness. ‘Adil’ tidak selalu harus diterjemahkan dengan ‘sama dengan’ atau ‘sejajar’ juga ‘persis’. ‘Adil’ lebih kepada ‘proporsional’, yaitu sesuai dan tepat proporsinya. Anda mendapat peran dengan porsi yang sedikit belum tentu itu tidak adil jika dibandingkan dengan peran orang lain dengan porsi yang lebih banyak; adil selalu berkaitan dengan kualitas, yang tolak ukurnya bisa jadi adalah ‘perasaan’, dan sebanyak apa anda perlu merasa terhadap sesuatu. Oleh karenanya, Kuntowijoyo dengan sangat cerdas menampilkan tokoh-tokoh utama dalam kumpulan cerpennya yang mayoritas sedang mencoba adil terhadap dirinya, dan bukan berusaha men-sama-kan dirinya. Bahkan, jika ada yang hendak disentil oleh Kuntowijoyo, adalah suatu kondisi dimana kesadaran umum tentang stereotip yang biasa dibangun berdasarkan kosa kata sameness, dan bukan ‘adil’.

Jika menurut Bara, secara jelas cerita tersebut (Dilarang Mencitai Bunga-bunga) memuat kritik terhadap maskulinitas, atau stereotip terhadap bagaimana seharusnya diri seorang laki-laki; justru dari sudut pandang yang lain saya hendak menyatakan kalau Kuntowijoyo menyajikan kesadaran bahwa memang seperti itulah maskulinitas. Ketika sudah ada sesuatu bernama label atau stereotip itu, maka akan ada sesuatu yang hendak diusung secara dominan mengatasnamakan stereotip tersebut.

Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga boleh jadi diubah sudut pandangnya menjadi feminim, maka kemudian ia akan menjadi cerpen yang sedang menyentil stereotip feminim. Maksud saya adalah cerpen ini, jika dilihat secara lebih mendasar dan tidak hanya secara permukaan apa yang tampak dari penokohan, maka cerpen tersebut bisa dibilang hendak menyampaikan variabel-variabel realitas yang kesemuanya itu dapat membangun sosok pribadi seseorang. Sosok ayah di dalam cerpen ini kurang mengena kiranya jika dijadikan alasan untuk mengklaim bahwa cerpen ini adalah kritik terhadap maskulin, karena sosok ayah pada akhirnya juga dapat memberikan kesadaran kepada tokoh utama tentang hidup sempurna dan kebahagaiaan yang terpatri dalam kerja keras; dan itu artinya memberikan kesadaran realitas bahwa kebahagiaan dan hidup sempurna bisa berada di mana saja tergantung pada sesuatu yang terhadapnya dipalukan sebuah keyakinan kuat-kuat.

Akhirnya, anda boleh saja menjadi laki-laki namun tetaplah harus proporsional; artinya dominan maskulin tanpa alpa dengan unsur lainnya. Anda juga boleh saja feminim namun tetaplahlah proporsional; artinya dominan feminim tanpa alpa dengan unsur lainnya. Segala macam realitas di dunia menjelma variabel-variabel yang sangat membingungkan, tapi sangat menarik untuk diikuti dan bahkan mengajak untuk menjadi seperti itu; namun terlebih dahulu perlu kiranya ditentukan siapa diri ini (dominan), baru kemudian boleh mencomot variabel-variabel realitas tadi secara proporsional untuk mewujudkan perlakuan terhadap diri sendiri secara adil. Sehingga kesimpulan terakhirnya tentang Dilarang Mencintai Bunga-bunga (Kakek ketenangan jiwa-kebun bunga, Ayah bengkel-kerja, ibu mengaji-masjid. Terasa aku harus memutuskan sesuatu. Sampai jauh malam aku baru akan tertidur. Bagaimanapun, aku adalah anak ayah dan ibuku), sejatinya adalah cerpen dengan pesan jati diri.

Hampir mirip dengan Dilarang Mencintai Bunga-bunga, adalah cerpen Kuntowijoyo lainnya yang berjudul Samurai. Laki-laki dalam cerpen ini sudah menyadari akan dirinya sebagai laki-laki, dan ia juga sudah sangat sadar bahwa dirinya adalah laki-laki yang dominan. Namun uniknya dari cerpen ini adalah Kuntowijoyo memunculkan fenomena sehingga ia seperti membawakan studi kasus saja; yaitu ada kasus dimana seorang laki-laki hendak mengajari istrinya menjadi perempuan dengan caranya yang laki-laki. Sangat tidak masuk akal, karena logikanya adalah anda hendak mengajari seseorang untuk memetik bunga dengan benar tapi melalui materi memegang palu dengan pakunya. Naif sekali, namun mungkin saja terjadi betulan di dunia nyata.

Cerpen Samurai menghadirkan sosok laki-laki sekaligus suami yang hendak mengeksploitasi ke-feminim-an istrinya sesuai dengan apa yang dikehendakinya sebagai maskulin. Tentu hal ini tidak adil sama sekali, karena sang suami dalam hal ini hendak menumbuhkembangkan feminim secara tidak alami, ia dipaksa tumbuh tapi bukan pada habitatnya. Maskulin dan feminim akan tumbuh di ladangnya masing-masing dengan alaminya sendiri-sendiri, keduanya bisa jadi berhubungan dan itu tidak untuk saling menguasai melainkan untuk saling melengkapi. Sehingga dengan demikian, feminim akan menegaskan status maskulin tentu dengan caranya sendiri, bukan melalui maskulin men-feminim-kan feminim. Begitu juga sebaliknya, maskulin akan menegaskan status feminim juga dengan caranya sendiri, bukan melalui feminim me-maskulin-kan maskulin. Maskulin-feminim adalah dua hal yang berbeda, tapi keduanya mempunyai hubungan aneh, yaitu dapat saling menegaskan satu sama lain dengan cara independen.

Tapi logika feminim itu terkadang memang aneh adanya, contohnya adalah cerpen Kuntowijoyo yang berjudul Anjing. Feminim yang diwakili oleh perempuan, mempunyai logika yang dalam sekejap bisa berubah, dan, baru kemarin dia mengatakan bahwa tetangga itu bisa diharapkan baik, sekarang dia mencacinya. Putaran pikiran yang cepat. Bahkan dalam hal ini, saya mulai berani berspekulasi terkait logika perempuan melalui cerpen Anjing ini, bahwa logika perempuan terkadang memang tidak bisa dikalahkan, unbeaten. Jika dalam suatu keluarga, dasar logika yang dipakai atau dasar bangunan logikanya terbangun dari logika perempuan, maka hidup keluarga tersebut akan penuh dengan sensitivitas; entah sensitivitas yang baik atau malah sebaliknya.

“Si najis itu terletak di atas kepala kita,” katanya. Saya katakan, hal itu tak apa. Ia marah dan menuduh saya bukan muslim yang baik kalau tidak terhina. Situasi yang sebenarnya baik-baik saja, bisa berubah menjadi gawat tingkat dewa jika bersama logika perempuan, dan itu jujur saja, alay bagi saya yang laki-laki. Dengan demikian, saya tidak terlalu menyorot ‘prasangka’ seseorang secara sepihak terhadap seseorang yang lain dalam cerpen ini; saya justru lebih menyorot pada bagaimana perempuan selalu memberikan respon terhadap realitas, yang terkadang bijak dan terkadang malah jungkir balik, dan itu semacam paradoks, kadang enak kadang juga enggak.

Perempuan selalu hadir bersama logika yang dibentengi secara kuat oleh sesuatu bernama perasaan; sehingga yang ada adalah dua kemungkinan, yaitu logika yang berperasaan atau perasaan yang berlogika. Ah, kenapa tiba-tiba saya jadi ikut ribet seperti perempuan? Dasar, virus logika perempuan.

Sampai di sini, barangkali juga perlu dicurigai, jangan-jangan sebenarnya laki-lakilah yang salah persepsi terhadap perempuan, sehingga perempuan selalu kelihatan ribet di mata laki-laki; dan jangan-jangan perempuan tidaklah seperti itu. Jika memang laki-laki memandang minor logika perempuan, begitu pula perempuan yang memandang minor logika laki-laki, maka dimana kemudian titik temunya? Bukankah dua makhluk beda jenis kelamin ini diciptakan untuk saling melengkapi?

Seharusnya dua logika yang terbangun dari dua jenis kelamin berbeda ini senantiasa saling mendekat satu sama lain, saling memahami dengan sebenar-benarnya pemahaman, saling menjaga dan saling mencinta. Permasalahannya kan sebenarnya ada pada ‘mencinta’ ini yang kadang bias dan berubah menjadi ‘menyiksa’. Anda berperilaku kepada istri, atas nama cinta dan benar-benar cinta, tidak bohong; tapi terkadang di pihak pasangan anda itu justru bukan cinta, itu justru malah siksa. Ah, cinta dan siksa benar-benar tipis pemisahnya.

Benar adanya, bahwa terkadang implementasi dari ‘cinta’ tadi terlihat seperti menyiksa, ‘cinta’ seolah menjelma penjara gaib dengan besi gaib pula namun sangat efektif untuk mengurung sanderanya. Saya jadi membayangkan, bagaimana jika para pelanggar undang-undang ini dikurung dalam pernjara gaib berbasis cinta saja? Ah, mungkin mereka akan semakin tersiksa. Mampus.

Namun, Kuntowijoyo mengemas apik sebuah cerita dengan alur cinta yang menyiksa ini, dan ajaibnya cinta yang dilema dengan siksa tersebut membuat sanderanya nyaman-nyaman saja. Lelaki tua itu sendiri saja. Kalau tidak, tentu istrinya telah mencacinya, bila pagi-pagi dia berbaring saja macam sekarang … Tetapi, dia tak di rumah. Lelaki tua itu menjulurkan kaki sepuasnya, menyedot pipa sampai napasnya terasa sesak. Sekaranglah dia benar-benar bebas. Maka dari itu, dua logika yang harus duduk bersama dalam ruang-waktu yang sama dan dihangati oleh visi ke depan yang sama, hendaknya saling arif bahwa bagaimanapun bentuknya (terasa cinta atau justru siksa) keduanya menghendaki kebaikan satu sama lain. Saya kira sesederhana itulah cinta, demi kebaikan bersama. Dan begitulah kira-kira menurut saya tentang cerpen Kuntowijoyo yang berjudul Sepotong Kayu Untuk Tuhan.

Terkait dengan cerpen Sepotong Kayu Untuk Tuhan ini, lagi-lagi saya berbeda dengan Bara. Bara dalam ulasan pengantarnya mengatakan bahwa cerpen ini mengandung kritik terhadap cara beragama dan berketuhanan. Pernyataan ini menurut saya masih absurd. Malahan, saya jadi bingung terhadap ulasan Bara tersebut, apakah yang dimaksud Bara itu adalah realitas nyata yang perlu belajar dari cerpen ini atau justru realitas cerpen ini yang salah sehingga ia hadir sebagai sentilan terhadap realitas nyata yang juga salah. Tidak ada ketegasan.

Jika ditarik ke persoalan cara beragama, maka bagi saya cerpen ini malah secara cerdas menghadirkan manusia limited edition; ia tidak seperti manusia kebanyakan yang biasanya mempunyai hobi memperkosa Tuhan dengan segala pinta-pinta berkedok doa. Laki-laki tua dalam cerpen Sepotong Kayu Untuk Tuhan ini malah mempunyai bangunan logika, berupa pertanyaan ‘apa yang hendak ia sumbangkan untuk Tuhan’, dan bukan apa yang semestinya Tuhan sumbangkan untuk dirinya.

Mohon maaf sebelumnya bagi siapapun yang membaca ini jika sudah sampai pada kata-kata ‘memperkosa Tuhan’ di atas. Pasalnya doa itu memang sudah perintah Tuhan, dan karenanya berdoa bukanlah praktik memperkosa Tuhan. Namun saya tetap memilih menggunakan kalimat itu, karena hendaknya manusia yang berdoa juga tahu diri, mengoreksi diri sendiri bahwa yang ia ajak dialog adalah Dzat Yang Maha Kuasa, dan bukan sesama makhluk yang jika ada udang di balik batu tidak akan kelihatan. Paling tidak, dengan adanya kesadaran yang demikian, kita sebagai manusia dan pelaku doa kepada Tuhan, tahu diri tentang apa yang pantas kita minta dan apa yang tidak pantas untuk diminta, bukan kemudian serta merta menjejal Tuhan dengan segala pinta-pinta tanpa malu. Macam mengajak Tuhan bercanda saja. Huft…

Dalam cerpen yang lain Kuntowijoyo berusaha menghadirkan refleksi interaksi beda generasi sebagaimana yang tersaji dalam cerpen berjudul Gerobak itu Berhenti di Muka Rumah. Meskipun Bara menyatakan bahwa cerpen tersebut merupakan ejekan terhadap prasangka buruk, yang telah menjadi unsur di dalam darah-daging manusia, namun saya justru melihat hikmah dari sudut pandang lain, bahwa cerpen tersebut menyajikan refleksi terkait interaksi beda generasi yang terkadang memang sulit untuk saling kompromi.

Generasi senior sering mempunyai kelemahan yang berupa ketidakmampuan beradaptasi dengan logika kontemporer. Apa yang ditampilkan generasi senior ini secara logika terkadang tidak mudah untuk diterima oleh generasi kontemporer berdasar logikanya pula; entahlah, semacam ada perbedaan sistem logika yang terbangun sehingga ketika keduanya hendak beririsan haruslah melalui proses fusi yang lumayan berbelit.

Sama halnya dengan logika maskulin-feminim sebelumnya yang memang seharusnya saling mendekat, cerpen ini menghadirkan generasi senior dan generasi junior yang juga berusaha untuk saling mendekat. Tokoh utama dalam cerpen, meski harus bersilang pendapat dengan istrinya sendiri yang kurang bersimpati dengan kakek (generasi senior), tetap saja terdorong untuk berhubungan baik dan akrab dengan kakek itu.

Sedangkan kakek dengan kebiasaan membuat bising di tengah malam bersama gerobaknya itu juga terdorong untuk bersesuaian dengan tokoh utama. Si kakek mencoba untuk berbuat baik kepada tokoh utama, memberikan perhatian kepada si kecil (anak dari tokoh utama), bahkan ia menerima usul dari tokoh utama untuk mengubah ban gerobaknya dengan ban oto agar supaya tidak lagi membuat bising di tengah malam. Walaupun ia sampai harus memeluk ban oto tersebut di saat hawa dingin berhasil mengajak nafas lembutnya melayang-layang ke alam baka. Sungguh disayangkan sih sebenarnya, karena si kakek harus terlebih dahulu bertemu dengan Sang Penenun Temu pas di saat semuanya sudah bersesuaian, logika generasi senior sudah ber-mur-baut dengan logika juniornya. Memang begitulah terkadang realitas bekerja, memutus perjuangan sebelum sepenuhnya bersua bahagianya.

Terkait realitas, ada salah satu pembahasan yang sering menjadi ambigu, yaitu realitas kemerdekaan atau kebebasan. Membahas konsep tentang kemerdekaan/kebebasan ini bukanlah perkara mudah, ia butuh waktu yang tidak sebentar, begitu pula aspek yang hendak diusut terkait pilar-pilar pembangunnya tentulah complicated. Baiklah, untuk mempermudah pelafalan, mari disepakati saja bahwa kemerdekaan dan kebebasan adalah dua hal yang sama, dan sepakati saja dalam tulisan ini untuk menggunakan satu kata demi mewakili dua kata tersebut, yaitu kebebasan.

Cerpen Kuntowijoyo yang berjudul Serikat Laki-laki Tua mencoba untuk menghadirkan ulasan tentang bagaimana sebenarnya kebebasan itu. Cerpen tersebut mengambil perspektif laki-laki tua dalam memandang kebebasan, dan hal tersebut merupakan pilihan yang tepat saya kira, mengingat usia senja sudah mulai arif tentang kepentingan bersama dan mulai mampu memendekkan sumbu kepentingan dirinya secara pribadi.

Kebebasan, akibat terlampau rumitnya ia dibentuk, terkadang bias terhadap ketidakbebasan. Seseorang yang bahkan dengan lantang menyuarakan akan kebebasan, di sisi lain ia juga bisa diklaim sebagai penyuara ketidakbebasan. Pada intinya tidak ada kebebasan murni dan absolut; di mana ada kebebasan yang didorong untuk tercipta pasti akan ada sebuah ruang, entah di mana, ketidakbebasan akan muncul. Bebas bagi seseorang belum tentu bebas bagi seseorang yang lain, dan oleh karenanya kebebasan butuh peraturan sebagai piranti lain untuk terus memelihara kebebasan tersebut secara tepat dan tidak kebablasan, apalagi sampai mengganggu kebebasan orang lain.

… Cara-cara yang meruntuhkan peradaban manusia semacam ini telah lama dipraktikkan oleh pemerintah absolut, tiran, fasis, dan komunis sepanjang abad. Kalimat ini dilontarkan oleh tokoh bernama Kojar, yang sebenarnya ia juga salah maksud dengan temannya yang hendak menggiring teman-teman yang lain dalam memilih topi yang seragam. Bahkan Kojar mendebat, Apakah kalian telah dengan sadar berbuat kejam dengan mencoba membuahkan pikiran, termasuk mengubah hidup yang plural menjadi satu warna saja? Ini tirani! Otoriter!

Supri, tokoh dalam cerpen yang berusaha menggiring teman-teman yang lain memilih topi yang seragam tadi, sebenarnya tidaklah bermaksud mendikte atau menghalangi kebebasan teman-teman dalam berbusana. Tidak, tidak seperti itu. Ia hanya berusaha menjadi fasilitator bagi tertampungnya ide secara bebas yang nantinya ide tersebut dirembuk secara arif guna melahirkan keputusan yang baik untuk bersama. Memang, Supri juga menyelipkan idenya, dan itu bukanlah masalah yang patut untuk dibesar-besarkan, lagipula ia membebaskan seluruh teman-temannya untuk berpendapat tentang topi tersebut.

Namun lagi-lagi, masalah kebebasan merupakan masalah complicated. Kebebasan jika ditarik lebih ke atas kemudian menjelma ‘kebebasan atas nama kebersamaan’, maka dalam waktu bersamaan akan muncul sebuah ruang, entah di mana, dan di situ ketidakbebasan akan mulai terasa. Dan untuk kasus cerpen Serikat Laki-laki Tua ini, Kojar-lah yang merasakan ruang ketidakbebasan atas lahirnya ‘kebebasan atas nama kebersamaan’ yang dimotori oleh Supri tadi. Mula-mula orang diperkenankan berpikir, berkata, atau berbuat asal dengan satu cara, nada, dan tema yang sama. kemudian, makin lama tidak diperkenankan sama sekali. Ujar si Kojar.

Barangkali, akan lebih melegakan jika ‘kebebasan’ itu sendiri dipandang sebagai suatu realitas yang tidak bisa berdiri sendiri. Bahwasanya, kebebasan akan selalu berhimpitan dengan ketidakbebeasan, keduanya akan saling tarik-menarik hingga menghadirkan labirin perjalanan hidup. Keduanya juga memang akan selalu ‘ada’, dan tidak bisa ‘tidak ada’ jika yang satu ‘ada’. Keduanya ada karena yang satu tidak bisa eksis tanpa yang lain. Sehingga, untuk mendamaikannya adalah tergantung prioritas, hal apa yang menjadi prioritas dan kebaikan bersama.

Cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang terkumpul dalam antologi Dilarang Mencitai Bunga-bunga bukan hanya tentang interaksi ke luar yang kemudian melahirkan wacana kebebasan tadi, tapi juga tentang interaksi di dalam, dalam artian di dalam satu persona. Cerpen yang berjudul Segenggam Tanah dari Kuburan secara tiba-tiba membuat saya teringat akan salah satu dialog dalam film Kungfu Panda 3, dialog antara tokoh utama Poo dan gurunya Shifu. Before the batle with physic, come the batle with mind, sebelum bertarung dengan raga, bertarunglah dengan pikiran. Setiap orang tentu punya pengalaman dengan gemuruh dirinya, entah itu gemuruh yang biasa anda sebut sebagai gemuruh batin atau gemuruh pikiran. Menurut saya, kedua istilah tersebut mempunyai arti yang sama, yaitu seseorang sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Buat saya pribadi, cerpen Segenggam Tanah dari Kuburan ini syarat dengan pesan bahwa seseorang yang berhasil mengendalikan pikirannya, batinnya, atau juga dirinya sendiri kedudukannya sudah pasti lebih tinggi daripada seseorang yang tidak mampu mengendalikan pikiran, batin dan juga dirinya sendiri. Mengendalikan diri sendiri bukanlah perkara mudah, bahkan hal demikian membutuhkan pengalaman yang sangat mumpuni untuk dapat memastikan bahwa kita telah benar-benar dapat mengendalikan dan memegang kontrol atas diri kita sendiri, dan kita biasa menyebutnya dengan sebutan ‘orang bijak’. Dengan demikian, anda harus jatuh-bangun dalam kegagalan sebagai uji coba pengalaman hidup untuk meraih status ‘orang bijak’ ini.

Banyak variabel yang akan mempengaruhi kita dalam proses pengambilan keputusan tentang diri kita sendiri. Bahkan variabel-variabel tersebut akan dapat membuat kita bingung untuk memilah-milih manakah di dalam diri kita yang masih murni dan mana yang sudah berkepentingan, putih dan hitam. Parahnya lagi, variabel-variabel tersebut juga menyerang pada teknik kita dalam mengambil keputusan, kita pun mulai linglung manakah yang ‘ketenangan pikiran’ dan manakah yang ‘ambisi atau nafsu’, ketenangan pikiran fersus ambisi/nafsu.

Mari beri contoh. Meski kita adalah seorang maling misalnya, kita akan menganggap itu benar adanya dengan alasan bawa kita bukanlah pezina. Untunglah, dia maling dan bukanlah pezina. Setidaknya, dua pekerjaan itu tak dicampurkannya. Ada hari baik untuk mencuri, ada hari bernafsu untuk mengunjungi perempuan. Celakalah maling yang tak dapat menahan nafsu. Menjadi maling kemudian sah-sah saja, asalkan maling yang tidak mencampuradukkan pekerjaan maling dengan lain-lain, maling ya murni maling, dan itu akan sah-sah saja.

Kuntowijoyo sangatlah piawai dalam merangkai cerita? Tentu. Bersama cerpen ini ia seolah hendak mengjungkirbalikkan bangunan logika, logika tentang yang mana ‘ambisi’ dan yang mana ‘ketenangan’. Ambisi dan ketenangan dibuatnya kabur bersama realitas yang melingkupi tokoh utama yang maling tadi, sehingga pelajarannya, menurut saya, berkisar pada dua hal; berambisi terhadap ketenangan atau bersikap tenang terhadap ambisi.

Tentu saja, kedua pelajaran tersebut, lagi-lagi menurut saya, bukanlah hal yang perlu diterapkan dalam bertingkah laku. Keduanya sama-sama menghadirkan pemaksaan melalui ambisi, meski itu dalam hal ketenangan. Ketenangan tidak hadir dalam paksaan, ia hadir dengan sendirinya melalui pengalaman dan kearifan, tentu juga alpa kepentingan alias minimalisir keinginan. Ketenangan layaknya makhluk yang juga memiliki pemikiran, dan ia akan hadir sesuai kriteria yang ia tetapkan sendiri, sehingga ia tahu kepada siapa yang ia anggap pantas untuk mendapatkannya.

Tokoh maling dalam cerpen, dan ia adalah tokoh utama, sangat terbantu dalam melaksanakan operasinya dalam mencuri karena ketenangan yang ia miliki. Tapi itu adalah ketenangan yang berkepentingan, dan itu adalah pelajaran nomor dua. Ibaratnya, ia hanya menunggangi simbol kebijaksanaan demi sesuatu bernama kebangsatan, dan itu sangat menjijikkan; makanya ia memelihara anjing sebagai pembantunya.

Sehingga, jika anda masih terjebak dalam pelajaran nomor dua, apalagi nomor satu, anda tetaplah berkategori sebagai sosok yang tidak berhasil mengontrol diri sendiri secara arif. Buktinya, dalam cerpen, tokoh maling yang sedemikian berpengalaman dalam ketenangan pada akhirnya harus menyerah kalah secara memalukan oleh sosok tua yang dengan ketenangan luar biasa melayang-layang dalam irama musik yang ia mainkannya sendiri. Sosok tua ini, saya kira memang sengaja tidak dibuat nyambung oleh Kuntowijoyo, agar supaya kontras dan dengan jelas memberikan isyarat bahwa apa pun jika itu adalah ketenangan yang murni tidak akan dapat dikalahkan oleh ajian apa pun atas nama kepentingan.

Giringlah diri kita kepada ketenangan tanpa kepentingan, biasakan diri anda melakukan apa pun dengan sangat tenang tanpa ada asal-usul yang menjadikan anda melakukan itu. Jika anda berhasil meraih ketenangan tanpa ada kepentingan, maka tanpa anda sadari kepentingan-kepentingan yang tidak anda harapkan sebelumnya akan mengikuti dengan sendirinya. Ketenangan akan menarik segala sesuatu yang pantas bagi tuan ketenangan itu sendiri, dan itu adalah pesan cerpen ini saya kira.

Namun terakhir, saya justru memberikan pertanyaan tentang ulasan saya sendiri tentang cerpen Kuntowijoyo ini; adakah sesuatu yang kita jalani di dunia ini tanpa ada kepentingan sedikit pun? Saya kira itu mustahil. So? Bagaimana pelajaran yang sebenarnya dapat diambil dari cerpen ini?

Jawaban terakhir saya; saya tidak mendapat pelajaran apa-apa dari cerpen ini. Karena saya, sejak selesai membaca cerpen tersebut sampai pada menulis tulisan ini, saya mencoba untuk tenang dan tidak berusaha menghadirkan kepentingan, termasuk kepentingan mengambil hikmah pembelajaran.

Baiklah… Barangkali poin ‘kepentingan’ tidaklah sepenuhnya harus dicela. ‘Kepentingan’ adalah sesuatu yang dapat menjadikan kita maju, melahirkan sesuatu yang baru, menjadikan kita berada di alur gerak dinamis dan meraup hal-hal yang sebelumnya belum kita dapatkan. Memang iya, kepentingan terkadang banyak disalahgunakan, dipersempit pada sudut lancip bernama kepentingan pribadi dan menumpulkan sudut bernama kepentingan bersama, dan biasanya hal itu dilakukan oleh orang yang punya kesempatan, seperti yang tersaji dalam cerpen Kuntowijoyo lainnya yang berjudul Ikan-ikan Dalam Sendang.

Tokoh utama dalam cerpen ini merupakan sosok yang dihormati, ia terkenal dengan dongengnya yang biasanya benar-benar terasa nyata. Singkat cerita, ia menjadi sosok dengan dongeng yang berwibawa, berwibawa terhadap seluruh kalangan; mulai dari kalangan orang-orang dewasa sampai kanak-kanak bau ingusan.

Nah, berkat wibawa yang ia kantongi itulah kemudian peluang untuk mengerucutkan kepentingan semakin tinggi. Cerpen Ikan-ikan Dalam Sendang ini menghadirkan cara unik untuk memuluskan pengkerucutan kepentingan tadi, yaitu dengan cara menghadirkan mitos, yang mana dengan mitos itu kemudian pengalihan pikiran terjadi, menggiring pikiran orang lain secara kolektif untuk tidak fokus pada hal yang sejatinya memang tujuan utama.

Saya kira Kuntowijoyo yang memilih mitos dalam kerangka cerpennya bukanlah tanpa alasan. Mitos selain memang naluri manusia dalam menambal ketidaktahuan mereka secara logis, ia juga merupakan hal dasar dalam proses berpikir. Sebelum manusia beranjak dewasa dengan perkembangan alur logikanya yang canggih macam sekarang, manusia menapaki jalan logika tradisional terlebih dahulu yang bernama mitos ini.

Jadi, Kuntowijoyo seolah menaruh simbol awal yang tentu saja dalam perjalanan zaman dapat berubah-rubah sesuai dengan tren-nya. Barangkali dahulu bisa jadi mitos yang dipakai untuk mengelabuhi kesadaran seseorang, tapi sekarang bisa jadi sudah menjelma berita-berita palsu untuk mengaburkan berita-berita asli. Jika secara tradisional mitos dapat memuluskan kepentingan, maka dewasa ini kita bisa menyebutnya dengan hoax yang sama persis juga memuluskan tujuan pembuatnya, mengail keuntungan melalui rekayasa kesadaran.

Mitos terkadang memang memuaskan dahaga keingintahuan yang tinggi. Sebagaimana disampaikan sebelumnya, bahwa mitos adalah hal naluriah yang dengannya dapat menambal ketidakmampuan manusia secara intelektual dalam memecahtelurkan realitas yang terjadi. Kebuntuan mengais rejeki kemudian terasa terpecahkan melalui mitos ini, ia seakan hadir bersama harapan pasti ketika intelektual macet total akibat keadaan yang memaksa. Yang dengan demikian mitos kemudian menjelma keajaiban dari dewa-dewa, memberikan peluang tanpa melalui prosedur SWOT yang berlogika.

Cerpen Mengail Ikan di Sungai dengan bersahaja menghadirkan persoalan mitos ini. Mitos dihadirkan semakin kuat adanya ketika ia mendapatkan dukungan kepercayaan, dengan kata lain mitos akan terasa semakin nyata ketika orang-orang mempercayainya dan mulai melaksanakannya. Bahkan, ketika mitos sudah merambah dalam kesadaran kolektif, maka ia tidak menampik siapa anda, anda juga akan tertular kepercayaan naif tentangnya.

Barangkali, saya menemukan jawaban dari pertanyaan mengapa mitos selalu menjadi hal yang mengasyikkan untuk dicermati setelah membaca cerpen ini. Pertama, mitos itu lucu. Kedua, mitos itu mudah dan sederhana dalam menyelesaikan permasalahan sehari-hari; meski pada tahap selanjutnya ketika sudah merambah pada kompleksitas masalah ia dapat menghadirkan hoax yang sama sekali berbahaya. Ketiga, barangkali Tuhan memang menaruh sesuatu di dalam mitos itu demi menguji kualitas iman para hambanya.

Iya, bayangkan saja, dalam kasus cerpen ini, yang sudut permasalahannya adalah bahan makanan berupa ikan harus melalui mitos untuk mendapatkannya. Pertama, ia lucu sehingga juga digemari oleh anak-anak. Kedua, ia sederhana dan mudah dalam mendatangkan solusi atas permasalahan sehingga orang pun mencari-cari alat pengukur mayat untuk dijadikan pancing. Ketiga, Tuhan menaruh tes lulus keimanan di dalam mitos untuk menggoda para hamba-Nya, seberapa yakinkah hamba itu terhadap Tuhan; hal itu diimplementasikan melalui hadirnya satu tokoh alim di antara sekian orang yang percaya mitos tersebut, dan ia mulai tergoda dengan mitos, walau dia juga berceramah tentang mitos dan menyatakan hal tersebut adalah tahayyul.

Sisi pelajaran yang dapat diambil dari mitos sebenarnya sangat sederhana. Ok-lah disepakati saja, bahwa mitos dan hoax itu sama saja. Dan pelajaran yang dapat diambil dari situ adalah sebuah persamaan; yaitu semakin mitos dan hoax itu digandrungi maka di situ pulalah semakin terlihat suatu masyarakat yang terburu-buru, tergesa-gesa, tidak sabar dalam memecahkan masalah, lebih suka jalan cepat daripada menggunakan budi yang melekat pada dirinya. Barangkali masih terlihat lucu jika itu adalah anak kecil yang mempercayai dan melakukannya, tapi akan terlihat naif jika anda sudah dapat berpikir dan memilah-milih mana yang masuk akal dan mana yang tidak. Tapi, ya bagaimana lagi, terkadang realitas hidup itu cukup membuat gila, dengan demikian bertindak bersama mitos dan menempatkannya sebagai hiburan semata tentu akan terlihat sah-sah saja.

Tapi, tidak-tidak, pola pikir yang sahih tetaplah menjadi sangat penting dalam menjalani realitas hidup yang serba gila ini. Mitos dan hoax adalah respon tidak masuk akal terhadap realitas yang juga tidak masuk akal, maka dari itu tidak elok jika pola pikir juga ikut-ikutan tidak waras. Setiap realitas kehidupan harusnya didudukkan bersama pola pikir yang jernih dan suci, agar supaya kelihatan benang putihnya untuk kemudian dicari jalan keluarnya. Memang, realitas hidup terkadang menjelma misteri dan teka-teki, tapi janganlah kemudian hal tersebut disambut dengan misteri dan teka-teki sejenisnya pula (melalui mitos dan hoax itu), karena jika demikian misteri dan teka-teki tersebut akan semakin ruet dan merembet pada persoalan hidup selanjutnya. Paham? Saya kira anda tidak paham, karena saya pun demikian.

Maka cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon senantiasa menampilkan problem realitas yang kompleks sembari menghadirkan kritik terhadapnya. Kritik tentu juga harus dilandaskan pada pondasi logika yang baik dan benar, tidak bertolak pada satu sudut pandang tertentu, namun harus diusahakan komprehensif dalam pendekatannya. Dalam cerpen ini, sosok yang sedemikian kritis terhadap realitas sosial dan ia berusaha menggunakan alur logika yang baik, ternyata masih saja berhadapan dengan permasalahan-permasalahan lain yang timbul setelahnya. Jadi, saya juga mulai berpikir, apa memang sebaiknya permasalahan hidup itu diselesaikan dengan mitos saja? Agar segera lebih tenang hidup ini? Ah, tentu saja tidak begitu, mitos menandakan ketergesahan, dan itu tanda ketidakmampuan, terlalu pragmatis.

Entah bagaimana alurnya, sikap yang anda tampilkan merupakan ekstrak dari pemikiran anda. Paling tidak begitu yang diungkapkan Freud melalui konsep bawah sadar-nya, dan Piaget melalui konsep ketidaksadaran kognitif-nya. Sikap fanatik, toleran, fanatik terhadap toleran, atau juga toleran terhadap hal yang fanatik, kesemuanya itu merupakan sari peras dan terkonstruk dari pemikiran anda secara tidak sadar.

Tokoh utama dalam cerpen ini mencoba mengotak-atik pikirannya sebelum benar-benar memutuskan sikapnya terhadap realitas yang ia jumpai selama perjalanan ke masjid untuk menunaikan kewajiban sebagai katib Jumat itu. Sesuatu yang menurutnya tidak seharusnya begitu, ia coba telaah kembali melalui pikirannya yang sadar mengapa menjadi begitu. Ia mencoba memposisikan dirinya dalam kondisi yang begitu, dan mencoba membandingkan dengan dirinya yang tidak begitu.

Dengan kata lain, ia berusaha menfungsikan kesadarannya, menekan tombol on pada budi dan kebijaksanaannya. Dialog batin jika boleh menyebutnya. Sampai pada akhirnya ia kebingungan sendiri, realitas yang beragam itu ternyata mempunyai standar yang berbeda-beda, dan tidak bisa diukur dalam suatu standar yang seragam, serasa tidak adil jika harus mengukur dengan standar yang tidak pas. Tokoh utama yang bingung ini, ternyata juga menyihir saya untuk bingung dan bertanya-tanya; adakah standar universal dalam hidup ini? Yang dapat secara praktis digunakan untuk keseluruhan realitas. Karena, jika kita mengukur orang di pasar dengan standar pasar, ya tentu saja benar; maksudnya ketika hari Jumat misalnya, tapi orang di pasar tidak pergi ke masjid untuk shalat Jumat, dan di waktu bersamaan kita mengukur mereka dengan standar pasar (untuk memenuhi kebutuhan hidup) dan bukan dengan standar hamba Allah, maka sepertinya tidak akan ada orang masuk neraka, dan dengan demikian surga pun akan bermacam-macam bentuknya sesuai dengan standar hidup di dunianya. Surga untuk orang di pasar, surga untuk orang di masjd, surga untuk orang di kampus, surga untuk orang di kantor, dan lain-lain. Oh… Alangkah sedihnya setan, karena rumah neraka secara resmi ditutup karena sepi.

Hal menarik dari cerpen ini adalah ketika tokoh utama mulai diuji. Pandangan ideal dirinya tentang bagaimana seharusnya seorang hamba patuh terhadap Tuhannya harus bertemu ujian yang bersoal kenangan dirinya di masa lalu. Singkat cerita, tokoh utama pada akhirnya lalai dengan tugasnya sebagai hamba, bahkan ia alpa dengan shalat Jumat itu, alih-alih tugas katib yang diembannya.

Sampai di sini saya kemudian mengucap amin-amin, bahwa realitas yang saya hadapi merupakan realitas yang sangat sesuai dengan kemampuan saya sebagai makhluk sosial dan saya sebagai makhluk yang menghamba pada Tuhannya. Belum tentu saya kuat menghadapi realitas yang sedang dihadapi orang lain, dan sebenarnya boleh saja menasehati orang lain dengan realitasnya tapi tentu dengan nasehat yang alpa benci, nasehat dengan kasih sayang sejati. Bukankah Muhammad sendiri sampai ditegur Tuhan dan mempertegas bahwa Muhammad itu hanyalah seorang pemberi peringatan dan bukan penguasa atas seseorang [?].

***

Kuntowijoyo tidak menghadirkan realitas yang ideal, ia lebih kepada mengajak pembacanya berpikir tentang idealnya sendiri. Cara yang sangat tepat untuk tidak menggurui dalam menyampaikan pesan-pesan kehidupan. Yang dengan demikian, tidak heran jika setiap cerpen yang Kuntowijoyo suguhkan selalu terasa ringan, mengena, pas, jenaka, dan tidak sensitif. Semua kalangan sepertinya dapat menikmatinya dan menimba kebijaksanaan di dalamnya.

Paling tidak, menurut saya, Kuntowijoyo bersama kumpulan cerpen Dilarang Mencitai Bunga-bunga ini mengajak kita untuk berpikir secara adil, bukan menuntut kesamaan dalam cara berpikir. Setiap pribadi mempunyai piranti yang berbeda dalam membangun pikirannya, membangun karakter personalnya, membangun sikap dirinya sebagai sosok individu dan sosial, masing-masing mempunyai latar belakang dan alasan yang tentu hal itu seolah meniadakan anugerah Tuhan jika harus diseragamkan.

Mari ambil contoh dari cerpen utama, yaitu Dilarang Mencintai Bunga-bunga itu sendiri. Tentu saja, maksud dari kakek itu adalah benar, ayahnya meski dari sudut pandang si anak merupakan sesuatu yang salah namun pada akhirnya si anak juga menyadari kalau itu juga benar, begitu pula ibunya yang sering menengahi tentu merupakan hal yang benar. Dari segala kebenaran yang ada, kita seolah sedang diserang oleh tombak kebenaran dari segala arah, dan kita tinggal memilih secara arif tombak mana kiranya yang sesuai dengan diri kita dan membiarkannya menusuk karakter pribadi kita.

Namun apakah masing-masing realitas yang terbangun dari segala latar belakangnya itu bisa dianggap sahih? Apakah itu tidak lebih tepat jika dinamakan ‘pemakluman’ atau sebuah sikap toleran terhadap realitas yang tidak beres menurut kita? Dan apa sebenarnya yang membatasi antara ‘sahih/benar’ dengan ‘maklum’ itu?

Ah, realitas memang selalu membingungkan.

Tapi wait… Bukankah Tuhan itu Maha Adil? Meski kita memaklumi terhadap segala realitas selain realitas kita secara pribadi, tapi kita juga tidak bisa apatis dengan realitas lain itu. Realitas kita dalam hidup, sadar dan tidak sadar, sebenarnya juga terbangun dari realitas yang lain itu. Di dalam diri kita terdapat kombinasi adil antara realitas yang benar-benar kita bangun dan realitas yang lain sebagaimana orang lain rasakan. Realitas kita yang mampu berdiri ini, terkonstruk secara adil oleh realitas pribadi dan realitas orang lain.

Sama halnya dengan kasus Zainuddin dalam prolog tulisan ini yang realitasnya adalah laki-laki. Tentu ia tidak bisa apatis dengan realitas lain selain dirinya, yaitu realitas perempuan. Ia perlu bersikap adil terhadap realitas dirinya, dan peduli dengan realitas selain dirinya yaitu perempuan, sebagai perwujudan sikap adil.

Karena bagaimana pun, sesalah-salahnya realitas di luar diri kita, kita tetap berdampingan dengan realitas lain itu, dan kita membutuhkannya sebagai perwujudan kita yang makhluk sosial. Makanya, kita hanyalah mudzakkir (penyampai peringatan), dan bukan mushaithir (yang berkuasa atas realitas), begitulah Tuhan memperingatkan Muhammad.

Klik salah satu link grup di bawah ini dan mulai bergabung dengan ribuan teman yang lain untuk berbagi informasi pendidikan dan diskusi:
Klik Gabung Channel Info Pendidikan dan Karir
Like Facebook Starla
Follow Instagram Starla
Follow Twitter Starla
GRUP TELEGRAM
Info Pendidikan Nasional, Info Karir dan Kerja, Info Beasiswa, Info CPNS & PPPK.
GRUP FACEBOOK
Info Pendidikan, Info Karir dan Kerja, Info Beasiswa, Info CPNS & PPPK.


Rifqi Rahman

Pasca UINSA Surabaya & Pegiat Literasi SLF-UINSA
BAGIKAN SEKARANG !

Share to Care

Ada banyak temanmu yang harus tahu tentang ini 😊

Pilih Format Postingan
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Artikel
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format